Minggu, 28 Juni 2026

Aku Tidak Lagi Mencari Tempat Bersandar

 Ada masa dalam hidupku ketika aku percaya bahwa dicintai berarti dipahami.

Bahwa akan ada seseorang yang tetap tinggal saat aku sedang tidak baik-baik saja.

Seseorang yang tahu bahwa ketika aku menjadi keras, reaktif, mudah tersinggung, atau sulit diajak bicara, sebenarnya ada sesuatu dalam diriku yang sedang terluka.

Aku hanya ingin ada satu orang saja.

Yang tidak buru-buru menyimpulkan bahwa aku buruk.

Yang mau berkata,

"Kamu lagi capek ya?"

"Ada yang bisa kita urai pelan-pelan?"

Karena sepanjang hidupku, aku terbiasa menjadi orang baik.

Menjadi orang yang mengalah.

Menjadi orang yang berusaha memenuhi harapan.

Tetapi ada satu masa ketika aku tidak lagi mampu menjadi sosok itu.

Tubuhku berubah.

Perasaanku berubah.

Kapasitas emosiku berubah.

Aku tidak bisa lagi selalu sabar, selalu penurut, selalu tenang.

Dan justru pada masa itulah aku dianggap buruk.

Tidak bersikap baik.

Tidak seperti biasanya.

Bagi orang lain mungkin itu hanya kalimat biasa.

Namun bagi seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha menjadi baik, kalimat itu terasa seperti pukulan telak.

Lama sekali aku percaya bahwa semua penilaian orang adalah kebenaran.

Kalau orang kecewa padaku, berarti aku salah.

Kalau orang marah, berarti aku kurang baik.

Kalau ada konflik, berarti aku harus berubah.

Sampai akhirnya aku kelelahan.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Aku tidak hanya menerima koreksi.

Aku juga menerima penghakiman.

Dan keduanya berbeda.

Koreksi berkata:

"Perilakumu ini menyakitkan."

Penghakiman berkata:

"Kamu memang orang yang buruk."

Dulu aku tidak bisa membedakannya.

Sekarang aku mulai belajar.

Aku masih bisa menerima masukan.

Tetapi aku tidak harus menerima semua label yang orang berikan kepadaku.

Karena manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu fase hidupnya.

....

Aku juga pernah marah pada tubuhku.

Pernah jijik pada tubuhku sendiri.

Pernah membenci perasaanku sendiri.

Pernah berharap aku tidak merasakan apa yang aku rasakan.

Namun hari ini aku mulai memahami.

Tubuhku tidak pernah berkhianat.

Ia hanya sedang berusaha bertahan.

Perasaanku juga tidak salah.

Perasaan itu bukan bukti bahwa aku mencintai orang yang salah.

Perasaan itu adalah bukti bahwa aku mampu mencintai dengan tulus.

Bahwa aku setia.

Bahwa aku bisa memberikan banyak hal dari diriku.

Hanya saja, tidak semua orang mampu menerimanya dengan baik.

Tidak semua orang tahu bagaimana menghormati ketulusan.

Dan itu bukan kesalahanku.

....

Aku juga menyadari bahwa saat kapasitas emosiku menurun, aku berubah.

Aku menjadi lebih keras.

Lebih sensitif.

Lebih mudah tersinggung.

Lebih sulit menyesuaikan diri.

Aku menyebutnya versi Hulk dalam diriku.

Dulu aku menganggap Hulk itu musuh.

Sekarang aku menganggapnya sebagai alarm.

Tanda bahwa aku sudah terlalu lelah.

Tanda bahwa aku perlu beristirahat.

Tanda bahwa ada bagian diriku yang sedang kewalahan.

....

Mungkin itulah mengapa sekarang aku tidak lagi terlalu berharap dimengerti orang lain.

Bukan karena aku menolak kedekatan.

Bukan karena aku tidak ingin dicintai.

Tetapi karena aku mulai belajar menjadi orang pertama yang mengerti diriku sendiri.

Aku mulai bertanya:

Apa yang sebenarnya aku butuhkan?

Bagaimana aku ingin diperlakukan?

Apa yang membuatku merasa aman?

Apa yang membuatku merasa dihormati?

Dan mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan jawabannya.

...

Mungkin aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu bisa menyelamatkanku.

Mungkin aku hanya membutuhkan diriku sendiri yang cukup mengenal siapa aku.

Yang tahu kapan aku sedang baik-baik saja.

Yang tahu kapan aku mulai kelelahan.

Yang tahu kapan aku perlu berhenti.

Karena pada akhirnya aku sadar,

setiap pagi setelah aku bangun dari tidur,

aku selalu memiliki kesempatan untuk menjadi versi diriku yang baru.

Tubuhku terus berubah.

Sel-sel tubuhku terus beregenerasi.

Pikiranku bertumbuh.

Perasaanku berkembang.

Aku bukan lagi orang yang sama seperti dulu.

....

Dan hidup terasa sedikit lebih ringan ketika aku memandangnya seperti permainan.

Hari ini aku bangun.

Hari ini ada tugas yang harus kuselesaikan.

Hari ini ada level baru yang harus kujalani.

Aku tidak harus memenangkan semuanya.

Aku hanya perlu menjalani hari ini sebaik yang aku bisa.

Dan untuk seseorang yang pernah hampir menyerah,

itu sudah merupakan kemenangan yang besar.

Sabtu, 29 November 2014

How to Increase Your Ability to Stay Tune on Your Commitment. (Pokoknya tentang Komitmen!)


Kata tetua-tetua writers,
Guys, judul itu harus menarik, menggambarkan isi dan mind catching!”
Telaah: 
√ menarik (buktinya ada yang buka postingan ini)
√ menggambarkan isi (you can trust me! I won't lie to you.)
mind catching (bahasa inggris yang seenak udel biasanya bikin orang jadi)
So, are I success?
Hihihi

Lupakan kata-kata sambutan yang aneh diatas itu. Mari kita masuk ke ranah yang lebih serius. 

Welcome!
Oso oseyo!
Selamat datang!

Sabtu, 16 Agustus 2014

Tidak Ada Jalan Untuk Kembali

Nahhh, jadi gini nih. Ada seorang cowok yang 'ceritanya' suka sama aku. AKu dan dia memang tinggal di lingkungan yang sama. Tapi sekalipun aku dan dia belum pernah bertegur sama, bicara gitu. AKu tau dia, dia tau aku. itu aja. And this namja...terus saja -menggunakan kata yang ia pakai- 'memperjuangkan' harapannya kepadaku. Oh please jangan suruh aku menulis kata cinta. I know...mungkin saja itu benar cinta, bukan obsesi seperti tebakanku. Tapi aku tidak mau memberinya hati dengan cara mengamini segala sesuatu berbau hati kepadanya.

Memberinya peluang dengan cara membalas/membaca bbm yang dia kirimkan sama saja dengan memberinya hati. Kata temanku. Memberinya hati dengan alasan kesopanan, tali pertemanan ataupun apapun ya sama saja dengan memberikannya harapan. Eisss, jadi baiklah. AKu akan benar-benar berhenti peduli sebagai jawaban tidak and dont disturb me please gituh.

Nahhh, karena uda menggerundel banget uneg-unegku jadi kubuatkan dia sebuah postingan note di facebook. Entah dia bakalan baca atau tidak. Ngerti atau tidak. AKu tidak peduli. Soalnya kalau berkonfrontasi sama orangnya langsung berasa ngomong sama orang dari planet lain. AKu bilang apa, dia tanggepin apa. AKu jawab apa, dia kira apa. Aku nulis status buat siapa, dia kira buat dia. Poorly me..

SOOOOO, Check this outtt!!

For what? Yahhh, for dibaca-baca aja gituh..

:P

Sabtu, 09 Agustus 2014

Menyapu Debu

*ambil kemoceng lalu bersih-bersih*
Wahhh, lumayan banyak spider-nya nih ahh.. *sedih*

Menjadi mahasiswa klinik itu sangat menguras waktu, emosi dan kesabaran.
*ditulis dengan tinta merah, dimiringkan dan ditebalkan.*

nb: hanya itu alasan yang bisa kukatakan. hahaha


:P

Well, hello everybody!! Apa Kabhar??

Selasa, 03 September 2013

I'm Still Alive Ya! (Walaupun Ngos-ngosan)

#sigh

Well, I'm back. I'm still alive. Kokorono tomo. =.="

Apa kabar? *gak penting!*

#sigh


Aku bertingkah seakan sedang canggung menghadapi seseorang. Yah, well, memang canggung sih. Berapa lama blog ini sudah tak tersentuh? Berkarat, penuh jaring laba-laba, berdebu, beberapa sudut juga kulihat ada pohon cemaraaaaaa...

Aku diinjak-injak oleh rutinitas. Lebih tepatnya, aku membiarkan diriku diinjak oleh rutinitas. Padahal aku tahu, rutinitas tidak punya kaki.

Hari ini aku datang hanya untuk bebersih saja, sambil berfikir mau dibawa kemana hubungan kita....blog ini maksudku.


Sejauh ini, aku masih sangat menyayangi Purpleross Pena.

Sampai jumpa, salam angettt.. :*

Minggu, 11 Maret 2012

Sketsa/Pola Sulam Kruistik?

Kruistik apa kristik sih yang bener? Itu loh kegiatan keterampilan yang sejenis nyulam tapi cuma berpola 'x' aja. Bisa pake benang sulam, bisa pake benang woll. Tau kan? Jangan-jangan kagak ada yang tau lagi =="

Senin, 20 Februari 2012

Februari and Some Love Story

*klik tombol tape*


"And I will always love you..."


*klik tombol tape lagi*


Selamat tinggal buat tante Whitney, semoga tempat yang terbaiklah yang Tuhan berikan untuk tante. :)


Untuk semua yang mengenalku dan membaca post ini, please jangan memperolokku setelah ini. Aku tidak bisa sama sekali mentoleransi olok-olok siapapun terhadap jalan hidup dan cara berfikir yang sudah Tuhan kasi ke aku.


"Hormatilah semua orang sebagaimana kamu ingin dihormati."


Hari ini aku menonton beberapa potongan cerita cinta yang bikin iri dan sedih.