Ada masa dalam hidupku ketika aku percaya bahwa dicintai berarti dipahami.
Bahwa akan ada seseorang yang tetap tinggal saat aku sedang tidak baik-baik saja.
Seseorang yang tahu bahwa ketika aku menjadi keras, reaktif, mudah tersinggung, atau sulit diajak bicara, sebenarnya ada sesuatu dalam diriku yang sedang terluka.
Aku hanya ingin ada satu orang saja.
Yang tidak buru-buru menyimpulkan bahwa aku buruk.
Yang mau berkata,
"Kamu lagi capek ya?"
"Ada yang bisa kita urai pelan-pelan?"
Karena sepanjang hidupku, aku terbiasa menjadi orang baik.
Menjadi orang yang mengalah.
Menjadi orang yang berusaha memenuhi harapan.
Tetapi ada satu masa ketika aku tidak lagi mampu menjadi sosok itu.
Tubuhku berubah.
Perasaanku berubah.
Kapasitas emosiku berubah.
Aku tidak bisa lagi selalu sabar, selalu penurut, selalu tenang.
Dan justru pada masa itulah aku dianggap buruk.
Tidak bersikap baik.
Tidak seperti biasanya.
Bagi orang lain mungkin itu hanya kalimat biasa.
Namun bagi seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha menjadi baik, kalimat itu terasa seperti pukulan telak.
Lama sekali aku percaya bahwa semua penilaian orang adalah kebenaran.
Kalau orang kecewa padaku, berarti aku salah.
Kalau orang marah, berarti aku kurang baik.
Kalau ada konflik, berarti aku harus berubah.
Sampai akhirnya aku kelelahan.
Lalu aku menyadari sesuatu.
Aku tidak hanya menerima koreksi.
Aku juga menerima penghakiman.
Dan keduanya berbeda.
Koreksi berkata:
"Perilakumu ini menyakitkan."
Penghakiman berkata:
"Kamu memang orang yang buruk."
Dulu aku tidak bisa membedakannya.
Sekarang aku mulai belajar.
Aku masih bisa menerima masukan.
Tetapi aku tidak harus menerima semua label yang orang berikan kepadaku.
Karena manusia tidak bisa dinilai hanya dari satu fase hidupnya.
....
Aku juga pernah marah pada tubuhku.
Pernah jijik pada tubuhku sendiri.
Pernah membenci perasaanku sendiri.
Pernah berharap aku tidak merasakan apa yang aku rasakan.
Namun hari ini aku mulai memahami.
Tubuhku tidak pernah berkhianat.
Ia hanya sedang berusaha bertahan.
Perasaanku juga tidak salah.
Perasaan itu bukan bukti bahwa aku mencintai orang yang salah.
Perasaan itu adalah bukti bahwa aku mampu mencintai dengan tulus.
Bahwa aku setia.
Bahwa aku bisa memberikan banyak hal dari diriku.
Hanya saja, tidak semua orang mampu menerimanya dengan baik.
Tidak semua orang tahu bagaimana menghormati ketulusan.
Dan itu bukan kesalahanku.
....
Aku juga menyadari bahwa saat kapasitas emosiku menurun, aku berubah.
Aku menjadi lebih keras.
Lebih sensitif.
Lebih mudah tersinggung.
Lebih sulit menyesuaikan diri.
Aku menyebutnya versi Hulk dalam diriku.
Dulu aku menganggap Hulk itu musuh.
Sekarang aku menganggapnya sebagai alarm.
Tanda bahwa aku sudah terlalu lelah.
Tanda bahwa aku perlu beristirahat.
Tanda bahwa ada bagian diriku yang sedang kewalahan.
....
Mungkin itulah mengapa sekarang aku tidak lagi terlalu berharap dimengerti orang lain.
Bukan karena aku menolak kedekatan.
Bukan karena aku tidak ingin dicintai.
Tetapi karena aku mulai belajar menjadi orang pertama yang mengerti diriku sendiri.
Aku mulai bertanya:
Apa yang sebenarnya aku butuhkan?
Bagaimana aku ingin diperlakukan?
Apa yang membuatku merasa aman?
Apa yang membuatku merasa dihormati?
Dan mungkin suatu hari nanti aku akan menemukan jawabannya.
...
Mungkin aku tidak membutuhkan seseorang yang selalu bisa menyelamatkanku.
Mungkin aku hanya membutuhkan diriku sendiri yang cukup mengenal siapa aku.
Yang tahu kapan aku sedang baik-baik saja.
Yang tahu kapan aku mulai kelelahan.
Yang tahu kapan aku perlu berhenti.
Karena pada akhirnya aku sadar,
setiap pagi setelah aku bangun dari tidur,
aku selalu memiliki kesempatan untuk menjadi versi diriku yang baru.
Tubuhku terus berubah.
Sel-sel tubuhku terus beregenerasi.
Pikiranku bertumbuh.
Perasaanku berkembang.
Aku bukan lagi orang yang sama seperti dulu.
....
Dan hidup terasa sedikit lebih ringan ketika aku memandangnya seperti permainan.
Hari ini aku bangun.
Hari ini ada tugas yang harus kuselesaikan.
Hari ini ada level baru yang harus kujalani.
Aku tidak harus memenangkan semuanya.
Aku hanya perlu menjalani hari ini sebaik yang aku bisa.
Dan untuk seseorang yang pernah hampir menyerah,
itu sudah merupakan kemenangan yang besar.